NAMLEA,habarnews.id – Pagi itu, kawasan Simpang Lima hingga pelataran Kantor Bupati Buru bertransformasi. Deru mesin kendaraan yang biasanya mendominasi urat nadi Kota Namlea, berganti riuh rendah tawa warga, derap langkah santai, dan alunan musik senam yang dinamis. Hari Minggu (24/5), menjadi bukti konsistensi Pemerintah Kabupaten Buru dalam merawat ruang publik yang inklusif melalui agenda rutin Car Free Day (CFD).
Namun, CFD di Buru bukan sekadar ritual olahraga mingguan biasa. Di balik keringat dan keceriaan warga, terdapat sebuah orkestrasi kebijakan publik yang matang sebuah titik temu antara diplomasi kesehatan masyarakat dan akselerasi ekonomi mikro.

Sinergi Kebijakan Dari GERMAS hingga Pemanfaatan Olahraga
Secara teoritis, CFD merupakan bentuk intervensi spasial yang efektif untuk menurunkan emisi karbon sekaligus mempromosikan gaya hidup aktif (active living). Di Kabupaten Buru, urgensi ini diwujudkan secara konkret sebagai pengejawantahan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Langkah strategis yang digagas oleh Dinas Pemuda dan Olahraga ini, juga menjadi ejawantah langsung dari visi Bupati Buru, Ikram Umasugi, S.E., mengenai program Pemanfaatan Olahraga dalam Masyarakat. Di tengah lapangan, atmosfer kebersamaan itu terasa kental. Bupati Buru Ikram Umasugi, bersama Ketua TP PKK Kabupaten Buru Ibu Mohra Ikram Umasugi, dan Sekretaris Daerah (Sekda) berbaur tanpa sekat bersama ribuan warga dalam sesi senam sehat. Kehadiran jajaran intersubjektif kepemimpinan ini mengirimkan pesan kuat: bahwa kesehatan publik adalah prioritas yang dikawal langsung dari hulu.
”Kesehatan masyarakat adalah fondasi dari produktivitas daerah. Melalui CFD, kita tidak hanya membangun raga yang sehat, tetapi juga kohesi sosial yang kuat,” ujar sebuah refleksi esensial dari eselon kepemimpinan daerah.
Efek Multiplier Ketika UMKM Menemukan Pangsa Pasar
Jika kesehatan adalah motor penggeraknya, maka ekonomi lokal adalah bahan bakarnya. CFD Namlea berhasil menciptakan multiplier effect (efek pengganda) ekonomi yang nyata bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Ruas jalan yang steril dari kendaraan dimanfaatkan optimal menjadi pasar tumpah yang tertata, menjajakan aneka kuliner lokal, produk kreatif, hingga kerajinan tangan khas Buru.
Secara ekonomi-politik, model ini memotong rantai distribusi dan mempertemukan produsen domestik secara langsung dengan konsumen (direct-to-consumer). Beberapa pelaku UMKM di lokasi mengungkapkan rasa syukur dan optimisme mereka terhadap ruang yang disediakan pemerintah ini. Bagi mereka, CFD bukan sekadar tempat berjualan, melainkan panggung eksistensi bagi produk-produk berbasis kearifan lokal.

“Program ini luar biasa. Kami tidak hanya dibantu dari segi omset mingguan, tetapi kerajinan tangan dan usaha mandiri masyarakat Buru mendapatkan panggung perhatian yang layak,” ungkap salah satu pelaku usaha mikro di kawasan Simpang Lima.
Namlea yang ‘Berseri’ Menuju Pertumbuhan yang Berkelanjutan
Sentimen positif yang beredar di sepanjang jalur CFD mencerminkan kepuasan publik (public satisfaction) terhadap arah pembangunan daerah. Di bawah nakhoda kepemimpinan Bupati Ikram Umasugi dan Wakil Bupati Sudarmo, masyarakat merasakan adanya transisi positif. Narasi “Namlea Makin Sehat, Ekonomi Tumbuh, dan Kabupaten Buru Makin Berseri” bukan lagi jargon usang, melainkan realitas yang dirasakan di akar rumput.
Melalui integrasi apik antara olahraga, pameran ekonomi kreatif, dan pelibatan sosial, CFD Kabupaten Buru telah berevolusi menjadi sebuah ekosistem. Ekosistem di mana kesehatan masyarakat diinvestasikan, dan kemandirian ekonomi rakyat dirayakan secara konsisten setiap Minggu pagi.(HN – 003)






