Jayapura, 29 Juli 2026, Habarnews.id – Konferensi Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Papua Pegunungan bersama Konferensi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Provinsi Papua Pegunungan resmi dibuka oleh Wasekjen PBNU (Cand), Dr. K.H. Lukman Umafagur, S.Hut., M.Si., pada Senin–Rabu, 27–29 Juli 2026 M bertepatan dengan 12–14 Safar 1448 H, bertempat di Hotel Grand SANTIKA (Aula I), Jalan Bhayangkara.
Konferensi tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat tata kelola organisasi, memperluas konsolidasi kelembagaan, serta mengakselerasi pengembangan Nahdlatul Ulama di wilayah Papua Pegunungan melalui pendekatan yang adaptif, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.
Dalam sambutannya, Dr. K.H. Lukman Umafagur menegaskan bahwa penyelenggaraan konferensi wilayah merupakan langkah awal yang fundamental dalam mengaktifkan struktur kepengurusan cabang baru sebagai bagian dari proses institusionalisasi organisasi. Menurutnya, penguatan struktur kelembagaan merupakan prasyarat penting bagi terciptanya organisasi yang memiliki legitimasi, efektivitas tata kelola, dan kapasitas pelayanan yang berkelanjutan.
Ia juga mengungkapkan rasa bangga dan apresiasinya atas sambutan hangat masyarakat Papua Pegunungan. Prosesi penyambutan yang disertai pengalungan sebagai simbol penghormatan dinilai bukan sekadar tradisi budaya, melainkan manifestasi penerimaan sosial terhadap eksistensi dan perkembangan Nahdlatul Ulama di Tanah Papua.
“Penghormatan yang kami terima merupakan cerminan bahwa Nahdlatul Ulama telah tumbuh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua Pegunungan. Ini adalah amanah yang harus dijaga melalui kerja-kerja organisasi yang berorientasi pada kemajuan umat dan bangsa,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wasekjen PBNU juga menitipkan harapan kepada Gubernur Papua Pegunungan agar terus membangun kolaborasi dengan Nahdlatul Ulama dalam mendukung pembangunan daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan dan moderasi beragama. Sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi kemasyarakatan dipandang sebagai fondasi penting dalam menciptakan pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang memiliki kontribusi signifikan dalam perjalanan bangsa. Kehadiran banyak kader NU pada berbagai posisi strategis di tingkat nasional, termasuk sebagai menteri, menunjukkan kapasitas organisasi dalam melahirkan sumber daya manusia yang berintegritas dan berdaya saing.
Mengacu pada berbagai hasil survei nasional, sekitar 56,9 persen penduduk Indonesia memiliki afiliasi kultural dengan Nahdlatul Ulama. Data tersebut tidak hanya mencerminkan besarnya basis sosial NU, tetapi juga mengukuhkan tanggung jawab moral organisasi untuk terus menghadirkan dakwah yang moderat, memperkuat persatuan nasional, serta berkontribusi dalam pembangunan peradaban Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Konferensi PWNU dan PCNU se-Papua Pegunungan ini diharapkan menghasilkan kepengurusan yang visioner, profesional, dan mampu memperluas peran Nahdlatul Ulama sebagai mitra strategis pemerintah serta penggerak transformasi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah Papua Pegunungan.(HN-002)






