Berita

Menenun Identitas Bupolo Langkah Strategis Dekranasda Buru Hidupkan Budaya Lewat Generasi Muda

×

Menenun Identitas Bupolo Langkah Strategis Dekranasda Buru Hidupkan Budaya Lewat Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

NAMLEA,habarnews.id — Di tengah laju modernisasi dan digitalisasi yang kian deras, sebuah daerah kerap dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana menjaga jati diri tanpa harus tertinggal oleh zaman? Jawabannya jelas, kemajuan sebuah peradaban tidak boleh hanya diukur dari megahnya pembangunan fisik, melainkan dari sejauh mana masyarakatnya mampu merawat, menghidupkan, dan mewariskan nilai-nilai luhur mereka ke masa depan.

​Sadar akan pentingnya ketahanan budaya tersebut, Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Buru, Ibu Mohra Ikram Umasugi, mengambil langkah konkret yang visioner. Beliau menginisiasi program pemberdayaan dengan mendatangkan para penenun ahli dari Kota Ambon untuk melatih remaja putri di Kabupaten Buru.

​Program ini bukan sekadar pelatihan teknis biasa, melainkan sebuah gerakan kultural untuk melahirkan identitas tenun khas tanah Bupolo.

​Filosofi Daun Kayu Putih dan Harmoni Alam

​Jika selama ini kain tenun identik dengan daerah-daerah tertentu di Maluku, kini Kabupaten Buru bersiap mengukir sejarahnya sendiri. Dalam pelatihan ini, para remaja putri tidak hanya diajarkan cara merangkai benang dari tingkat dasar hingga mahir, tetapi juga diajak untuk menggali kekayaan intelektual lokal.

​Motif yang dikembangkan murni lahir dari rahim alam Pulau Buru:

    • Daun Minyak Kayu Putih: Menjadi inspirasi utama yang dituangkan dalam helai benang, menegaskan identitas Buru sebagai penghasil minyak kayu putih terbaik.
    • Burung Endemik Pedalaman: Menyimbolkan kebebasan, keindahan, serta harmoni mendalam antara manusia dan alam yang telah terjaga selama berabad-abad.

​”Budaya itu harus hidup dan bernapas dalam keseharian, bukan sekadar dipajang di etalase museum atau dirayakan dalam seremonial tahunan.”

​Pelestarian Berbasis Pemberdayaan Ekonomi

​Secara sosiologis, langkah yang diambil Dekranasda Kabupaten Buru ini memutus rantai kepunahan budaya dengan metode yang adaptif. Melalui jalur pendidikan non-formal dan keterampilan, kebudayaan ditransformasikan menjadi sektor kreatif yang bernilai ekonomi tinggi.

​Ketika generasi muda diberi ruang, fasilitas, dan kepercayaan untuk berkarya, mereka tidak lagi sekadar menjadi “penonton” sejarah. Mereka bertransformasi menjadi pelaku utama sekaligus benteng pertahanan budaya daerah. Kain tenun yang mereka hasilkan kelak bukan hanya menjadi komoditas ekonomi, melainkan “duta budaya” yang bercerita kepada dunia tentang kekayaan tradisi Pulau Buru.

​Langkah Ibu Mohra Ikram Umasugi ini menjadi pengingat penting bagi kita semua: bahwa menjaga warisan leluhur adalah kerja berkelanjutan. Dan investasi terbaik untuk menjaga budaya tersebut adalah dengan menanamkannya di jemari dan hati para generasi muda.(HN – 003)

Baca berita menarik lainnya dari Habarnews.id di Channel Telegram