Berita

Deklarasi dan Halal Bihalal KKSK Jakarta 2026: Menghidupkan Kembali Falsafah Leluhur Sula untuk Indonesia yang Harmonis

×

Deklarasi dan Halal Bihalal KKSK Jakarta 2026: Menghidupkan Kembali Falsafah Leluhur Sula untuk Indonesia yang Harmonis

Sebarkan artikel ini

Jakarta, 14 Juni 2026, Habarnews.id – Semangat persaudaraan, kebersamaan, dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal mewarnai pelaksanaan Deklarasi dan Halal Bihalal Kerukunan Keluarga Sula Kepulauan (KKSK) yang berlangsung di Kampoeng Tipar, Cibubur, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat solidaritas masyarakat Sula Kepulauan di perantauan sekaligus meneguhkan komitmen menjaga warisan budaya sebagai fondasi pembangunan sosial yang berkelanjutan.

Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Pembina KKSK Ir. Zainuddin Umasangadji, Dr. Saiful Bahri Ruray, S.H., M.H., Dewan Pakar KKSK Prof. Dr. Abdul Haris Fatgehipon, S.Pd., M.Si., Ketua Umum HIKMU Ir. H. Askan Naim, S.Sos., M.H., Ketua Umum MUB Oktovianus H. Sero, Pembina KKSK Kolonel Fahri Bahnan, yang mewakili Bupati Buru Rizal Faisal Ipa, S.Sos (Staf Khusus)., M.Si.Turut hadir pula keluarga besar masyarakat Sula dan Maluku Utara yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum KKSK Lukman Umafagur, S.Hut., M.Si. menegaskan bahwa terbentuknya Kerukunan Keluarga Sula Kepulauan bukan sekadar wadah silaturahmi, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga dan mentransformasikan nilai-nilai luhur warisan leluhur ke dalam kehidupan modern.

“Masyarakat Sula Kepulauan memiliki warisan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para pendahulu. Nilai-nilai tersebut bukan hanya simbol budaya, tetapi menjadi pedoman moral dan sosial dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Lukman.

Menurutnya, terdapat lima nilai fundamental yang menjadi identitas dan falsafah hidup masyarakat Sula, yaitu Walima, Malomkub, Manatol, Maksaira, dan Baubar. Kelima nilai tersebut telah hidup dan dipraktikkan oleh masyarakat Sula jauh sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.

Secara akademik, nilai-nilai tersebut merepresentasikan modal sosial (social capital) yang sangat penting dalam menjaga kohesi sosial, memperkuat solidaritas komunitas, serta membangun budaya gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia. Nilai Walima mencerminkan semangat persaudaraan dan kebersamaan, Malomkub mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia, Manatol menanamkan tanggung jawab sosial, Maksaira mengedepankan semangat musyawarah dan penyelesaian masalah secara damai, sedangkan Baubar menjadi simbol persatuan dan kekuatan kolektif masyarakat.

Para tokoh yang hadir juga menilai bahwa pelestarian nilai-nilai lokal seperti yang dimiliki masyarakat Sula merupakan bagian penting dari upaya menjaga ketahanan budaya nasional di tengah arus globalisasi yang semakin kompleks. Budaya lokal tidak boleh dipandang sebagai romantisme masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi dan solusi dalam menghadapi berbagai tantangan sosial kontemporer.

Deklarasi KKSK Jakarta 2026 menjadi tonggak penting dalam memperkuat jaringan masyarakat Sula di perantauan, sekaligus mempertegas kontribusi masyarakat Sula Kepulauan dalam pembangunan bangsa. Melalui semangat halal bihalal yang sarat dengan nilai rekonsiliasi, persaudaraan, dan kebersamaan, seluruh elemen masyarakat diajak untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan serta menjadikan warisan budaya sebagai energi pemersatu.

Kegiatan ditutup dengan pembacaan komitmen bersama untuk menjaga kerukunan, memperkuat solidaritas antarwarga Sula di seluruh Indonesia, serta mewariskan nilai-nilai luhur leluhur kepada generasi muda sebagai fondasi menuju masyarakat yang berbudaya, maju, dan berkeadaban.

“Kerukunan bukan sekadar berkumpul dalam satu ikatan, tetapi kemampuan menjaga nilai, merawat persaudaraan, dan menghadirkan manfaat bagi sesama. Inilah warisan terbesar masyarakat Sula untuk Indonesia.”(HN-002)

Baca berita menarik lainnya dari Habarnews.id di Channel Telegram