SIRI SORI ISLAM,habarnews.id – Di tengah eskalasi cuaca ekstrem yang melanda perairan Maluku, sebuah momentum kultural dan politik yang sarat akan nilai dedikasi terjadi pada Jumat (2/5). Bupati Buru, Ikram Umasugi, memimpin langsung delegasi tingkat tinggi dalam memenuhi undangan silaturahmi serta menghadiri prosesi sakral pelantikan Raja Siri Sori Islam.
Kunjungan ini bukan sekadar pemenuhan protokol birokrasi, melainkan sebuah refleksi dari keteguhan kepemimpinan yang mengakar pada penghormatan tatanan adat (adat istiadat).
Rombongan Strategis dan Ujian Geografis
Dalam diplomasi kultural ini, Bupati Ikram Umasugi didampingi oleh figur-figur sentral yang merepresentasikan pilar birokrasi, agama, dan legislatif. Tampak hadir dalam rombongan:
Ibu Mohra Ikram Umasugi (Ibunda Bupati sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Buru)
Rizhal Ipa (Ketua NU Pulau Buru)
Ust. Rizhal Umasugi (Ketua Forum Dai Provinsi Maluku)
Jalil Mukadar & Ade Rahman Tukuboya (Anggota DPRD Kabupaten Buru)
Kepala Badan Kesbangpol serta Kepala Dinas Nakertrans Kabupaten Buru.
Kolektivitas delegasi ini menunjukkan betapa
Kolektivitas delegasi ini menunjukkan betapa pentingnya relasi sosiokultural antar-wilayah di Maluku bagi konstelasi pemerintahan Kabupaten Buru.
Perjalanan yang dimulai dari Pelabuhan Tulehu pada pukul 15.30 WIT tersebut bertransformasi menjadi ujian nyali dan fisik. Menggunakan speedboat Pemda Buru, rombongan harus mengarungi laut lepas selama dua jam di bawah kepungan ombak besar dan intensitas hujan tinggi karakteristik hidrometeorologi khas Maluku pada periodisasi musim ini. Di tengah risiko tinggi keselamatan maritim, keputusan untuk tetap melaju mencerminkan sebuah integritas komitmen yang tak goyah oleh kendala alam.
Belang dan Simbolisme Penyambutan Samudra
Kecemasan di tengah lautan terbayar lunas saat lambung kapal mendekati perairan Siri Sori Islam. Secara sosiologis, masyarakat menunjukkan estimasi dan respek yang tinggi melalui rekonstruksi penyambutan adat. Armada Belang (perahu adat tradisional) bergerak dinamis ke tengah laut, mengawal rombongan dengan kibaran bendera warna-warni yang bersanding harmonis dengan bendera Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan adanya sinergi identitas kultural dan kultus politik yang kuat.
Antusiasme massa mencapai puncaknya di garis pantai. Ratusan warga, jajaran tokoh adat, tokoh pemuda, hingga tokoh masyarakat larut dalam suasana haru dan takjub.
“Kami memberikan pengakuan dan hormat yang setinggi-tingginya. Melewati jalur darat dan laut yang panjang, membelah gelombang ekstrem, Pak Bupati dan Ibu Mohra tetap datang memenuhi hak adat kami. Ini adalah potret nyata dari pemimpin yang memiliki ikatan batin dengan rakyat,” ujar salah satu tokoh adat dengan emosional.
Sebagai bentuk kepedulian universal terhadap keselamatan sang pemimpin, masyarakat secara spontanitas menggotong Bupati Ikram Umasugi dan Ibu Mohra menggunakan kursi langsung dari atas dek speedboat menuju daratan. Pemandangan ini menjadi simbol visual betapa tingginya legitimasi sosial yang dimiliki oleh sang kepala daerah di mata masyarakat.
Integrasi Budaya, Adat, dan Nilai Spiritual
Sesaat setelah memijak daratan, atmosfer Siri Sori Islam bergemuruh oleh penampilan dinamis marching band yang dimainkan oleh generasi muda negeri, disusul dengan arak-arakan menuju Rumah Raja. Di sana, rombongan disambut dengan tarian Sawat sebuah media ekspresi estetis Maluku yang melambangkan kehangatan, perdamaian, dan persaudaraan hakiki.
Setelah merampungkan seluruh rangkaian penyambutan yang menguras energi, Bupati Buru tidak melupakan esensi spiritualitas sebagai jangkar kehidupan. Usai beristirahat sejenak di fasilitas yang disediakan Pemerintah Negeri, Bupati Ikram Umasugi beserta rombongan langsung membaur dengan masyarakat lokal untuk melaksanakan ibadah shalat Maghrib dan Isya berjamaah di Masjid Baiturrahman Siri Sori Islam.
Secara antropologi politik, kunjungan Bupati Ikram Umasugi ke Siri Sori Islam mengirimkan pesan kuat tentang pentingnya “Grounded Leadership” atau kepemimpinan yang membumi. Di era modern, ketika jarak sering kali dipangkas oleh teknologi komunikasi virtual, kehadiran fisik seorang pemimpin di tengah ancaman bahaya alam adalah bentuk political will dan ketulusan tingkat tertinggi. Peristiwa ini akan dicatat oleh kolektif masyarakat Siri Sori Islam bukan hanya sebagai kunjungan kerja, melainkan sebagai monumen sejarah tentang bagaimana sebuah relasi persaudaraan sejati dirawat melampaui batas-batas geografis dan ancaman badai.(HN – 003)






