Namlea, Habarnews.id – Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Buru, Rizal Faisal Ipa, S.Sos., M.Si., angkat bicara terkait akses internet Telkomsel di Kabupaten Buru yang sudah hampir satu bulan terakhir tidak stabil. Pernyataan itu ia sampaikan pada Senin (8/9/2025). Menurutnya, kondisi ini tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi pelayanan di berbagai sektor.
“Telkomsel harus menjelaskan kepada masyarakat Buru, apa yang sebenarnya terjadi. Hampir satu bulan internet tidak stabil, ini sangat merugikan. Pendidikan terganggu, kesehatan terganggu, pelayanan pemerintahan pun ikut terhambat. Apakah Telkomsel tidak memikirkan dampak sosial dan ekonomi dari pelayanan yang buruk ini?” tegas Rizal.
Ia menambahkan, generasi muda, pelaku usaha kecil, hingga tenaga kesehatan adalah kelompok yang paling merasakan dampaknya. Siswa dan mahasiswa kesulitan belajar, UMKM terhambat memasarkan produk secara online, sementara rumah sakit dan puskesmas kesulitan mengakses data maupun aplikasi layanan.
“Internet di era digital bukan lagi fasilitas tambahan, melainkan kebutuhan mendasar. Kalau Telkomsel bisa memberi pelayanan terbaik di kota-kota besar, kenapa masyarakat Buru harus dibiarkan menderita dengan jaringan yang tidak stabil?” ujarnya dengan nada kritis.
Rizal mendesak Telkomsel untuk segera memperbaiki kualitas layanan. “Masyarakat berhak mendapatkan pelayanan yang layak. Jangan biarkan masalah internet ini menjadi hambatan besar bagi pembangunan di Kabupaten Buru,” pungkasnya.
Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melalui Direktorat Pengendalian Infrastruktur Digital menjelaskan penyebab gangguan layanan telekomunikasi di Pulau Buru. Dalam unggahan resmi Instagram @pmt.komdigi pada Jumat (16/8/2025), gangguan disebut terjadi sejak 14 Agustus 2025 pukul 12.25 WIB akibat putusnya kabel Fiber Optic (FO Cut) pada Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sulawesi Maluku Papua Cable System (SMPCS-1) ruas Manado – Namlea-BU6. Titik putus berada sekitar 11,45 km dari BMH Namlea, dengan penyebab yang masih dalam tahap investigasi.
Sebagai langkah mitigasi, penyelenggara telekomunikasi menyediakan jalur cadangan (backup reroute) menggunakan microwave dan satelit dengan kapasitas 1,6 Gbps. Pada Jumat (15/8) pukul 21.58 WIB, dipastikan tidak ada Base Transceiver Station (BTS) yang terdampak, namun layanan 4G tetap terganggu, sementara layanan 2G masih bisa digunakan untuk komunikasi dasar.
Upaya perbaikan sementara dijadwalkan pada 25 Agustus 2025, sedangkan perbaikan permanen ditargetkan rampung pada 2 September 2025. Komdigi menegaskan pihaknya terus melakukan pemantauan bersama penyelenggara telekomunikasi, Lokmon Spektrum Radio Ambon, serta Pemerintah Daerah untuk memastikan layanan telekomunikasi di Kabupaten Buru tetap dapat diandalkan.
Pantauan Redaksi Habarnews.id
Hingga Senin (8/9/2025), kondisi terkini di wilayah Pulau Buru masih mengalami gangguan layanan internet. Padahal, sesuai rilis resmi Komdigi, perbaikan permanen sebelumnya diperkirakan rampung pada 2 September 2025. (HN-002)





