LIANG, MALUKU TENGAH,habarnews.id— Maluku akhirnya mengambil langkah konkret untuk keluar dari bayang-bayang paradoks kekayaan alam. Melalui groundbreaking proyek pengolahan kelapa dan pala di Desa Liang, Kecamatan Teluk Elpaputih, Rabu (29/4), provinsi kepulauan ini resmi memancangkan tonggak sejarah baru dalam peta industri perkebunan nasional.
Proyek strategis ini merupakan bagian dari gelombang kedua hilirisasi nasional yang dipantau langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dari Cilacap, Jawa Tengah. Langkah ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur fisik, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan ekonomi Maluku atas komoditas unggulannya.
Akhir dari Era Eksploitasi Bahan Mentah
Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, dalam sambutannya menekankan bahwa ketergantungan pada penjualan bahan mentah telah lama menjadi penghambat kesejahteraan petani. Dengan produksi kelapa yang melampaui 100.000 ton per tahun dan ribuan ton pala, Maluku selama ini hanya menjadi penonton saat nilai tambah komoditasnya dinikmati oleh pihak luar.
“Kita kirim bahan mentah ke luar, mereka olah, lalu kita beli kembali dengan harga mahal. Paradoks ini tidak boleh terus terjadi. Hilirisasi adalah kebutuhan mendesak untuk memastikan nilai tambah tetap berada di tanah ini,” tegas Hendrik.
Dampak Multiplier dan Stabilitas Kawasan
Transformasi kawasan Awaiya menjadi pusat industri pengolahan diproyeksikan akan menciptakan efek domino (multiplier effect) bagi ekonomi lokal:
Penciptaan Lapangan Kerja: Menyerap tenaga kerja lokal secara masif guna menekan angka pengangguran.
Kemitraan Strategis: Membangun ekosistem usaha yang melibatkan petani rakyat sebagai penyedia bahan baku utama.
Kedaulatan Fiskal Daerah: Meningkatkan kontribusi sektor perkebunan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Maluku.
Gubernur juga memberikan catatan kritis kepada jajaran PT Perkebunan Nusantara I (Persero) agar tidak melupakan aspek kemanusiaan. Ia mendesak agar program Corporate Social Responsibility (CSR) bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan instrumen nyata untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi industri.
Sinergi Lintas Sektor
Hadirnya tokoh-tokoh kunci seperti Kasdam XV/Pattimura Brigjen TNI Nefra Firdaus, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, hingga jajaran kepolisian dan legislatif menunjukkan bahwa proyek ini mendapat dukungan penuh dari sisi keamanan dan kebijakan.
Gubernur mengingatkan bahwa stabilitas sosial adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan investasi ini.
Analisis Singkat: Mengapa Ini Penting?
Secara geopolitik ekonomi, hilirisasi di Maluku Tengah ini menandai pergeseran fokus pembangunan dari Jawasentris ke arah Indonesia Timur.
Jika dikelola dengan tata kelola yang bersih (good governance), Awaiya tidak lagi hanya dikenal sebagai lahan perkebunan tua, melainkan episentrum baru pertumbuhan ekonomi yang akan mengubah wajah kesejahteraan masyarakat Maluku di masa depan.
Masa depan Maluku kini tidak lagi hanya dipanen di pohon, tapi diolah di pabrik sendiri.(HN – 003)






