Berita

Membaca Jejak Sejarah dan Membasuh Akar Silsilah Narasi Perjalanan Kultural Bupati Buru di Bumi Saparua ‎

×

Membaca Jejak Sejarah dan Membasuh Akar Silsilah Narasi Perjalanan Kultural Bupati Buru di Bumi Saparua ‎

Sebarkan artikel ini

SAPARUA,Sabtu 23 Mei 2026,habarnews.id  — Perjalanan birokrasi tidak melulu soal administrasi formal, melainkan sebuah pencarian spiritual dan kultural untuk meneguhkan kembali akar identitas. Hal inilah yang tecermin dalam kunjungan kerja Bupati Buru, Bapak Ikram Umasugi, S.E., bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Buru, Ibu Mohra Ikram Umasugi, beserta rombongan di Pulau Saparua, Maluku Tengah.

‎Setelah menyelesaikan agenda di Negeri Siri Sori Islam, sebelum bertolak kembali ke Ibu Kota, rombongan memilih melakukan jeda kontemplatif. Mereka mengeksplorasi situs memori kolektif bangsa di Benteng Duurstede dan melakukan ziarah genealogis yang sarat emosi di Negeri Iha.

Benteng Duurstede Dialog Estetika dan Memori Geopolitik Masa Lalu

‎Langkah kaki rombongan Bupati Buru di Benteng Duurstede bukan sekadar kunjungan wisata biasa, melainkan sebuah rekonstruksi kritis terhadap sejarah pertahanan Nusantara. Secara antropologis dan arsitektural, Benteng Duurstede yang dibangun pada abad ke-17 merupakan artefak material yang merekam dinamika geopolitik, jalur rempah, serta episentrum perlawanan rakyat Kepulauan Lease yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura pada tahun 1817.

Bupati Ikram Umasugi tampak mengamati dengan saksama struktur dinding batu karang benteng yang masih kokoh berdiri, memandang ke arah Teluk Saparua yang dulu menjadi saksi bisu taktik maritim masa lampau. Di titik ini, sejarah tidak lagi bermakna sebagai teks mati, melainkan sebagai dialektika yang memberi pelajaran berharga tentang ketahanan, kedaulatan, dan visi kepemimpinan strategis.

Ziarah Sakral di Negeri Iha Romantisme Genealogi dan Bakti Anak Cucu

Dari panggung sejarah makro di Duurstede, perjalanan bergeser ke arah yang lebih intim dan sakral Negeri Iha. Kunjungan ini memiliki dimensi sosiologis dan spiritual yang sangat dalam bagi Ketua TP PKK Kabupaten Buru, Ibu Mohra Ikram Umasugi. Di sinilah tempat peristirahatan terakhir nenek dari garis keturunan ibu beliau sebuah jangkar silsilah (genealogical root) yang menghubungkan darah dan pengabdian lintas pulau.

‎Di area pemakaman tersebut, suasana protokoler melebur menjadi keheningan yang khusyuk. Dengan penuh takzim, Pak Bupati dan Ibu Mohra membersihkan makam leluhur secara mandiri, sebuah tindakan simbolis yang melambangkan penghormatan tertinggi (piety) terhadap asal-usul kehidupan.

‎Doa-doa panjang yang Bupati buru lafazdkan beliau memimpin berdoa dengan penuh khidmat dan rida dipanjatkan ke hadirat Allah SWT dalam kekhusyukan yang mendalam. Secara psikologis dan kultural, ritual ziarah ini bukan sekadar tradisi, melainkan proses “pembasuhan spiritual” untuk menyerap kembali nilai-nilai luhur, keteguhan, dan doa restu para leluhur demi kelancaran amanah memimpin masyarakat di Kabupaten Buru.

Refleksi Kultural Dari Ume Putih Menuju Namlea

‎Usai menuntaskan ziarah keagamaan dan budaya tersebut, rombongan bergerak menuju pesisir Ume Putih, Negeri Kulur. Di dermaga alami ini, sebuah speedboat telah bersiap memecah ombak Selat Saparua, membawa rombongan kembali menuju Kota Ambon sebagai titik transit, sebelum melanjutkan perjalanan udara menuju Namlea, Kabupaten Buru.

‎Perjalanan singkat namun padat makna di Pulau Saparua ini membuktikan satu hal: seorang pemimpin yang visioner adalah ia yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya, dan senantiasa merawat akar tradisi serta hubungan spiritual dengan para leluhurnya.(HN – 003)

Baca berita menarik lainnya dari Habarnews.id di Channel Telegram